Perkuat Pencegahan, Klinik Digital Ungkap Vaping Kini Jadi Ekosistem Sosial-Digital

Nasional8 Dilihat

JAKARTA — Kajian independen Klinik Digital menemukan bahwa vaping di Indonesia telah berkembang menjadi ekosistem sosial-digital yang melibatkan produk, konten digital, teman sebaya, keluarga, gaya hidup, retail, hingga platform digital.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pencegahan tidak hanya berkaitan dengan produk, tetapi juga proses terbentuknya persepsi yang membuat penggunaan vaping secara perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Associate Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS dari Program Vokasi Universitas Indonesia, mengatakan risiko terbesar muncul ketika suatu perilaku tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berisiko karena terus terlihat dan hadir dalam kehidupan sosial.

“Tantangan terbesar bukan ketika anak muda sudah menggunakan, tetapi ketika sebuah risiko kehilangan kesan sebagai risiko. Sesuatu yang terus terlihat, dibicarakan dan hadir dalam pergaulan dapat perlahan terasa biasa,” ujar Devie.

Kajian yang dilakukan Klinik Digital, bagian dari Ruang Karya Berdampak (RKD) Foundation, menggunakan purposive web scraping terhadap 41 temuan awal. Setelah disaring berdasarkan kriteria kajian, diperoleh 39 sumber digital unik yang relevan dan tidak berulang.

Data tersebut kemudian dianalisis melalui evidence synthesis, triangulasi lintas sumber, serta cross-validation. Sumber yang digunakan mencakup data surveilans, penelitian peer-reviewed, pemantauan pemasaran digital, studi perilaku pemuda, audit retail, analisis kemasan produk, serta dokumen pemerintah dan regulasi.

Analisis dilakukan dengan melihat sejumlah aspek yang saling berkaitan, mulai dari epidemiologi, karakteristik produk, paparan digital, pengaruh teman sebaya dan keluarga, akses retail, regulasi, hingga evaluasi pencegahan.

Dari kajian tersebut, Klinik Digital memetakan mekanisme yang disebut sebagai “Mesin Normalisasi Digital”, yakni produk → konten → peer → akses → penggunaan → konten.

Pola tersebut menggambarkan siklus yang dapat saling menguatkan. Produk menciptakan daya tarik, konten membangun familiaritas, teman dan komunitas memberikan legitimasi sosial, sementara akses digital memperpendek jarak antara rasa ingin tahu dan transaksi. Penggunaan kemudian dapat menghasilkan percakapan serta konten baru yang kembali memperluas paparan.

“Produk menciptakan daya tarik. Konten membangun familiaritas. Teman dan komunitas menciptakan social proof. Akses digital memperpendek jarak antara rasa ingin tahu dan transaksi. Penggunaan kemudian kembali menghasilkan percakapan dan konten,” ujar peneliti Klinik Digital Wiratri Anindhita.

Menurutnya, vaping tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor karena berada di persimpangan kesehatan publik, pemasaran digital, budaya teman sebaya, retail, dan regulasi platform.

“Algoritma tidak bekerja sendirian, tetapi ada teman, keluarga, produk, komunitas dan lingkungan sosial. Persoalan digital pada akhirnya tetap merupakan persoalan manusia,” katanya.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar Klinik Digital untuk melihat relevansi jejaring pencegahan yang telah dibangun Badan Narkotika Nasional (BNN).

Klinik Digital menilai BNN memiliki modal penting dalam menghadapi perubahan karakter ancaman, yakni pengalaman pencegahan, jejaring masyarakat, sekolah dan komunitas, perhatian terhadap generasi muda, serta kapasitas kolaborasi lintas sektor.

Fondasi tersebut oleh Klinik Digital disebut sebagai Social Prevention Architecture, yakni pendekatan pencegahan yang bertumpu pada jaringan sosial nyata untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap risiko.

“Kami memetakan masalahnya terlebih dahulu. Justru setelah peta itu terbentuk, terlihat bahwa kekuatan pencegahan sosial yang selama ini dibangun BNN semakin relevan dengan tantangan generasi muda hari ini,” ujar peneliti Klinik Digital, Andhita Yukihana.

Ia menambahkan bahwa institusi yang kuat bukan hanya mampu menghadapi ancaman yang sudah terlihat, tetapi juga mampu membaca perubahan sebelum risiko berkembang menjadi lebih besar.

Dalam kajian tersebut, keberadaan 1.910 Remaja Teman Sebaya Anti Narkotika dinilai memiliki arti strategis. Jejaring teman sebaya tidak hanya dapat menjadi jalur penyebaran norma perilaku, tetapi juga dapat diarahkan menjadi jalur perlindungan.

Jika teman sebaya dapat memengaruhi terbentuknya perilaku berisiko, jejaring yang sama juga dapat digunakan untuk memperkuat norma hidup sehat dan menjauhkan generasi muda dari narkotika maupun perilaku berisiko lainnya.

Hal serupa terlihat dari keberadaan 214 Desa/Kelurahan Bersinar yang menunjukkan bahwa upaya pencegahan BNN telah menjangkau lingkungan masyarakat tempat norma sosial sehari-hari terbentuk.

Klinik Digital menilai jaringan tersebut semakin penting karena penelitian menunjukkan perilaku generasi muda tidak dibentuk oleh media sosial semata, melainkan melalui interaksi antara individu, teman, keluarga, komunitas, dan lingkungan digital.

“Ketika banyak orang melihat teknologi sebagai jawabannya, BNN ternyata telah memiliki sesuatu yang tidak dimiliki algoritma, yaitu manusia, teman sebaya dan komunitas. Dalam era digital, justru jaringan sosial nyata seperti inilah yang semakin berharga,” kata Wiratri.

Klinik Digital juga mengapresiasi konsistensi BNN dalam menempatkan pencegahan sebagai bagian penting dari strategi penanggulangan narkotika, termasuk melalui penguatan strategi War on Drugs for Humanity, Ananda Bersinar, transformasi digital, dan pemberantasan narkotika secara terintegrasi.

Menurut Klinik Digital, pemberantasan berfokus menangani ancaman yang telah terjadi, sedangkan pencegahan berupaya membangun kondisi agar ancaman tersebut tidak berkembang sejak awal.

Karena itu, kajian tersebut menyimpulkan BNN tidak memulai dari nol. Fondasi pencegahan melalui masyarakat, sekolah, teman sebaya dan komunitas telah tersedia dan dinilai semakin relevan dengan perubahan lanskap risiko generasi muda.

“Kemenangan terbesar pencegahan bukan hanya ketika kita berhasil menghentikan sesuatu yang berbahaya, tetapi ketika satu generasi tidak pernah merasa perlu untuk memulainya,” ujar Devie.

Devie menegaskan, inti kajian tersebut adalah pemetaan mekanisme normalisasi vaping, yakni bagaimana paparan berulang terhadap produk, promosi, lingkungan sosial, serta kemudahan akses dapat membuat vaping secara perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau wajar di masyarakat.

Dengan demikian, penguatan pencegahan tidak cukup hanya menyasar individu, tetapi juga perlu membangun ketahanan keluarga, sekolah, komunitas, teman sebaya, dan lingkungan digital sebagai satu ekosistem perlindungan bagi generasi muda.