Momen 13 Tahun Wafatnya Gus Dur : Figur Simbolik Persatuan & Keberagaman Bangsa Indonesia

News178 Dilihat

Jakarta – K.H Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 Republik Indonesia merupakan tokoh yang sangat penting dan berpengaruh dalam perjalanan bangsa Indonesia. Bukan saja beliau pernah menjabat menjadi Presiden Indonesia dan Tokoh Besar Nahdatul Ulama. Selama masa hidup dan berkarya beliau senantiasa berperan aktif dan efektif dalam usaha menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, beliau juga selalu berusaha untuk mencegah diskriminasi dan perundungan terhadap kaum kaum minoritas dan terpinggirkan di Negeri ini.

Karena hal inilah bahkan setelah 13 tahun wafatnya beliau, rasa kehilangan dan kerinduan terhadap sosok Gusdur masih sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Bukan hanya oleh Anggota NU dan Umat Islam Saja namun seluruh Anak Bangsa yang mencintai dan menghormati keberagaman.

Oleh karena itulah Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Sokotunggal Jakarta menyelenggarakan acara Haul kebangsaan bertajuk “Berbuat Baik bagi Sesama Mengenang Manaqih Hidupnya” untuk memperingati 13 tahun wafatnya sosok hebat dan Berpengaruh Presiden K.H Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gusdur. Hal ini sebagai bukti bahwa Gus Dur hidup di hati para pencintanya. Ia adalah simbol perlawanan, keteguhan, konsistensi. Ia dicintai dari segala pemeluk lintas agama. Jejak hidupnya adalah keteladanan. Ya cendikiawan, ya kiai, ya pengamat sepak bola, ya kutu buku. Gus Dur adalah manusia paket komplit yang dihadiahkan Gusti Allah untuk negeri ini.

Acara yang diselenggarakan Pada Kamis 22 Oktober 2022 Di Jakarta Timur ini antara lain mengetengahkan Narasumber yang merupakan orang terdekat, sahabat dan Mitra kerja dari Gusdur semasa hidup yaitu Pimpinan Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Sokotunggal Jakarta K.H Nuril Arifin Husein atau yang akrab disapa Gus Nuril dan Antonius Benny Susetyo, Tokoh Katolik sekaligus Staff Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia.

Dalam Diskusi yang diselenggarakan sejak pukul 19.00 ini Gus Nuril menyampaikan bahwa kita harus bersatu dan bersama melanjutkan Perjuangan Kyai Abdurrahman Wahid, yaitu dengan berusaha menjawab dan membahas fenomena sosial tanpa filter dengan semangat keakraban dan kebersamaan yang tidak kehilangan kekritisan dan kepedulian terhadap fenomena sosial yang tidak hanya seremonial namun dengan berlaku nyata menyebarkan semangat dalam menjaga dan mempersatukan NKRI apapun latar belakang Identitasnya.

Lebih lanjut Gus Nuril menyatakan Bahwa Gusdur dalam keterbatasannya terbukti tidak hanya mampu menyentuh hati umat Islam, namun seluruh bangsa Indonesia khususnya yang mencintai perdamaian.

“Lewat tangan dinginnya pula beliau bisa menciptakan figur-figur terpilih yang berkontribusi penting bagi bangsa , hendaknya kita sebagai para penerusnya dapat menjaga kedamaian dan keberagaman yang menjadi kenyataan Hidup bangsa Indonesia.” kata Gus Nuril.

Ia meminta hendaknya teladan Gusdur tidak hanya kita ingat, namun juga kita bagikan dan tularkan sehingga semangat kedamaian dalam keberagaman yang secara nyata Gusdur tanamkan sepanjang hidupnya tetap lestari.

“Jadikan dasar bagi kita semua untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini. Kita harus senantiasa menyebar rahmat dan kedamaian sebagaimana yang Gusdur lakukan seumur hidupnya yaitu tak mengenal lelah menebar cinta dan kebaikan ke seluruh penjuru negeri tanpa memandang latar belakang identitasnya.” tegas dia.

Selanjutnya Staff Khusus BPIP, Benny Susetyo menyatakan bahwa beliau pertama kali bertemu dan bekerjasama bersama K.H Abdurrahman Wahid terkait kasus kerusuhan situbondo. Kerjasama tersebut bertujuan untuk dapat kembali merajut perdamaian di Situbondo yang sempat rusak akibat kerusuhan bernuansa SARA dan agar konflik yang terjadi di Situbondo tidak meluas ke Wilayah lain di Jawa Timur.

Persahabatan itu terus berkembang dengan bersama sepanjang 1996 hingga 1998 dengan usaha membentengi Jawa Timur agar tidak terjadi Konflik dan Kerusuhan. Gusdur mengundang para romo untuk bertemu dan berdialog dengan para Kyai di seluruh Jawa Timur.

“Usaha ini membuahkan hasil dengan pada tidak terjadinya kerusuhan 1998 yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia ke jawa timur. Hasil tersebut diraih karena usaha gigih Gusdur dalam membangun solidaritas dan persatuan kesatuan antar pemeluk agama.” kenang Benny.

Lebih lanjut, Benny menyatakan bahwa Gusdur sebagai pribadi mampu melihat realita yang tak bisa kita lihat, kemungkinan-kemungkinan yang mungkin masyarakat dan manusia lain abaikan beliau dengan segala keterbatasannya mampu lebih dahulu mengerti dan memperhatikan.

“Ini menunjukkan kepiawaian beliau dalam kemampuannya menjaga bangsa, kedamaian, persatuan dengan selalu mampu dan mampu membangun suasana menyenangkan dengan guyonan guyonan segarnya. Spirit Gusdur ini hendaknya agar selalu dapat kita jaga dan lestarikan sehingga semangat kebersamaan dalam berbangsa itu selalu dapat dinikmati dan dirasakan bahkan dalam masa yang akan datang.” bebernya.

Benny menutup pembahasan tentang Presiden Abdurrahman Wahid di Acara yang dihadiri 100 Orang dari berbagai kalangan tersebut dengan menyatakan bahwa “Gusdur merupakan bukti nyata bahwa Beragama harus selalu menjadi Inspirasi, beragama berarti menjaga dan mencintai sesama ciptaan Tuhan, bahkan mereka yang terpinggirkan.”

“Gusdur simbol persatuan dan simbol keberagaman yang akan selalu mendapat tempat yang spesial di dalam perjalanan Bangsa dan Negara Ini.” pungkasnya.