Pasca Pasangan Capres-Cawapres Ditetapkan, Rampai Nusantara : Cuma Prabowo-Gibran yang Tak Pernah Dipanggil KPK

News363 Dilihat

Jakarta – Dewan Eksekutif Nasional Rampai Nusantara menyambut baik penetapan pasangan capres dan cawapares di pemilu 2024 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yakni Anis-Muhaimin, Ganjar – Mahfud dan Prabowo – Gibran.

Ketua Umum Rampai Nusantara Mardiansyah berharap pasca penetapan capres dan cawapres masyarakat dapat menilai dengan jeli rekam jejak masing-masing pasangan terutama terkait dengan integritas ketiga calon yang telah resmi ditetapkan.

“Sudah resmi tiga paslon dalam pilpres 2024 nanti, dan kami melihat hanya Pasangan Prabowo-Gibran yang tidak pernah berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” jelas Mardiansyah.

Lebih lanjut Semar sapaan akrab Mardiansyah sampaikan selain paslon Prabowo-Gibran memiliki rekam jejak pernah berurusan dengan KPK.

“Jangan lupa Ganjar pernah diperiksa terkait kasus E-KTP, Mahfud dimintai keterangan terkait kasus sengketa pilkada yang melibatkan mantan ketua MK Akil Mochtar, Anis pernah diperiksa soal kasus formula E dan Muhaimin diperiksa kasus kardus durian, Prabowo Gibran clear soal itu,” tambah Semar.

Semar menilai jika ada pihak yang terus mengritik Gibran dengan berbagai serangan karena statusnya sebagai anak presiden namun rekam jejak paslon lain yang pernah berurusan dengan korupsi tidak juga dibuka ke publik untuk dikritisi berarti itu tebang pilih.

“Mas Gibran terus diserang dengan berbagai isu yang mengada-ada hanya karena anak presiden, padahal yang bersangkutan memiliki rekam jejak sangat bersih selama memimpin Solo sampai hari ini, dibandingkan dengan paslon lain, kalo mau fair harusnya catatan rekam jejak calon lain yang pernah berurusan dengan KPK dibuka juga dong ke publik itu jauh lebih penting karena terkait dengan integritas paslon yang akan menjadi pemimpin nasional,” tegas Semar.

Ia juga menyayangkan dengan salah satu media nasional yang sangat dikenal dengan integritasnya dan juga isi berita yang selalu berbobot tajam hasil investigasinya ternyata belakangan menurutnya sangat masif menyudutkan Jokowi dan Gibran tapi tidak mengungkap rekam jejak paslon lain yang jelas memiliki catatan tidak baik soal Korupsi.

“Bayangkan belakangan ada media nasional yang terus menerus menyudutkan Presiden Jokowi dan Mas Gibran dengan berbagai sarana medianya yang terkesan serangan ini sangat sistematis, bahkan seniornya dedengkot media tersebut yang cukup dikenal justru menyebarkan hoaks atau berita bohong khan sungguh memalukan dan dengan tidak juga mengungkap persoalan integritas capres-cawapres yang pernah berurusan dengan KPK, itu sangat tidak fair dan terlihat sepertinya media nasional itu memang sedang berpolitik praktis bukan sedang memperjuangkan nilai-nilai.” tandas Semar.